Willkommen auf den Seiten des Auswärtigen Amts

Walter Spies

Walter Spies

Walter Spies, © Kedutaan Besar Jerman Jakarta

Artikel

Siapakah Walter Spies? Orang Jerman dari Moskow, pelukis, pianis, konduktor, etnolog, sejarawan dan kolektor.

Walter Spies (15 September 1895 – 19 Januari 1942)

Walter Spies berasal dari sebuah keluarga terpandang di Jerman, ia juga pernah menetap lama di kota Moskow. Sang kakek berimigrasi dari Elberfeld pada tahun 1846 ke sana dan mendirikan sebuah perusahaan dagang di kekaisaran Rusia. Orangtua Walter Spies bernama Leon, salah satu dari empat orang pewaris kerajaan bisnis sang kakek yang menikahi Martha von Mohl. Martha berasal dari keluarga ternama yang berasal dari silsilah bangsawan Württemberg. Ayahnya pernah menjadi konsul di Napoli. Mereka memiliki empat orang anak yang kesemuanya berbakat dalam bidang seni.

Walter terlahir pada tahun 1895. Pengalaman bermain musik pertama kalinya ia alami di rumahnya sendiri. Ia menyelesaikan ujian SMAnya di kota Dresden. Pada awal pecahnya Perang Dunia I, pada saat itu ia sedang berada di kota Moskow dan masih berusia 19 tahun bersama sang kakak dianggap sebagai „wajib militer asing dan musuh negara“ dan dijadikan tahanan di daerah Ural. Pada tahun 1917 setelah gencatan senjata terjadi ia kembali dari Moskow dan membagi-bagikan lukisan-lukisannya, yang ia hasilkan semasa menjadi tahanan serta mendapatkan pekerjaan sebagai pelukis teater. 1918 ia kembali ke kota Dresden dan di sana ia mengambil kuliah dalam bidang seni lukis. 1921 ia pindah lagi ke kota Berlin dan berkarya sebagai musisi dan komponis.

Tetapi di Berlin ia juga tidak betah terlalu lama. 1923 ia menyewa sebuah kapal uap bernama „Hamburg“ dan berlabuh di pulau Jawa. Stasiun pemberhentian pertamanya waktu itu adalah kota Bandung, dimana ia mendapatkan uang untuk hidupnya dari bermain piano untuk bioskop film bisu serta dengan mengikuti konser-konser. Disana ia tinggal tidak terlalu lama, ia pindah sekali lagi ke kota Yogyakarta. Pada bulan Desember 1923 ia ditunjuk oleh Sultan Yogya untuk menjadi Kepala Orkestra Istana. Di Yogyakarta pula ia belajar musik gamelan dan menciptakan penulisan bagi alat musik tersebut.

Pada tahun 1925 atas undangan Bangsawan Penguasa Ubud, Tjokorde Gde Raka Sukawati, ia pertama kali menginjakkan kakinya ke Pulau Dewata. Di sana ia mendalami tari Bali, diantaranya ia melakukan koreografi terhadap tari yang kemudian lebih dikenal sebagai tari Kecak.

Pada tahun 1927 ia pindah secara permanen ke Bali. Di Bali ia menghabiskan waktunya dalam bidang seni dan budaya. Ia menyibukkan diri dalam bidang musik gamelan dan menuliskan musik tersebut ke atas kertas.

Ia juga menulis bersama Beryl de Zoete sebuah buku berjudul „Dance and Drama in Bali“. Ia mempelajari seni ukir kayu dan sampai saat ini dikenal sebagai pencipta figur kayu berukuran kecil. Ia melukis dan menjual serta membagikan lukisannya tersebut; bersama Viktor von Plessen ia membuat film berjudul „ Insel der Dämonen” atau diterjemahkan “Pulau Roh-Roh Jahat“ ; mempelajari Agama Hindu serta sejarah Bali, yang kemudian dijadikan landasan bagi buku „ Liebe und Tod auf Bali atau Cinta dan Mati di Pulau Bali “ dari Vicky Baum; ia merancang bagi keluarga bangsawan Tjokorde beberapa kediaman kerajaan, mendirikan sebuah musium dan masih banyak lagi lainnya.

Pada tahun 30-an Rumah-Spies berubah menjadi pusat bagi budaya Bali. Daftar orang-orang ternama yang ia undang atau yang datang begitu saja ke sana sungguh mengagumkan: dari Charlie Chaplin, Leopold Stokowski, Noel Coward, pionir penerbang wanita Elly Beinhorn, produsen film Viktor von Plessen, Cole Porter, Barbara Hutton, Vicky Baum, Margaret Mead dan banyak lagi lainya. Terhitung sejak tahun 1938 ia mulai semakin mengucilkan diri. Di satu sisi karena ia tidak ingin menjadi pemandu turis lagi.

Ia tidak meninggal di Bali tetapi di lautan bagian barat pelabuhan Sibolga. Ketika pasukan Hitler pada tahun 1940 menaklukkan Belanda, sebagian besar orang Jerman di Hindia Belanda dipenjarakan. Mereka dikapalkan ke India, karena ditakutkan akan mendukung negara Jepang yang sedang bersiap melakukan invasi ke sana. Walter Spies masuk kamp tahanan di Sumatera dan pada tahun 1942 bersama 500 tahanan lainnya berada dalam kapal yang bernama “van Imhoff”. Namun tidak jauh dari Pulau Nias sebuah kapal terbang Jepang menyerang kapal dan tembakannya mengenai kapal tersebut. Awak kapal dapat menyelamatkan diri namun lebih dari 400 tahanan Jerman tenggelam bersama kapal termasuk diantaranya Walter Spies.

Karena ia tidak dapat kembali lagi ke Eropa, maka pada awalnya ia dilupakan. Namun dengan berjalannya waktu ia kembali ditemukan. Dengan peringatan ulang tahun ke-100 Walter Spies pada bulan September 1995 serta atas kerja sama dengan musium-musium di Jerman digelarlah dua pameran di Indonesia, yang pertama di Galeri Nasional Jakarta dan yang kedua di Bali di Musium Agung Rai.

Konten terkait

Ke awal laman