Selamat Datang di Situs Web Kementerian Luar Negeri Jerman

Raden Saleh

Raden Saleh

Raden Saleh, © GI

Artikel

(*Mei 1811 – †23. April 1880)

Raden Saleh Syarif Bustaman terlahir pada bulan Mai 1811 sebagai putra dari keluarga bangsawan di Semarang, Jawa Tengah. Joseph Payen, seorang pelukis asal Belgia yang tinggal di Jawa, melihat bakat Raden Saleh sejak dini. Payen pun kemudian mengatur dengan pihak pemerintahan Hindia Belanda, agar Raden Saleh yang baru berusia 18 tahun saat itu, mendapatkan pendidikan dalam bidang pemerintahan di Belanda. Setibanya di Belanda, Raden Saleh langsung mengambil pendidikan sampingan secara privat pada dua orang pelukis Belanda yang terkenal pada saat itu. Sepuluh tahun kemudian setelah mengakhiri pendidikannya, ia meminta ijin sebelum kembali ke Indonesia untuk dapat berkeliling Eropa.

Setelah kunjungan singkatnya di Kota Düsseldorf, Frankfurt dan Berlin ia sampai di kota Dresden, dimana ia tinggal beberapa tahun lamanya. Ia sangat menyukai aliran lukisan Jerman yang romantis dan di sana pun ia sangat sukses sebagai pelukis, ia juga mempelajari Bahasa Jerman. Di sana ia menemukan teman serta juga pemujanya, seperti Friedrich Anton Serre serta Bangsawan Herzog Ernst II. von Sachsen-Coburg-Gotha.

Raden Saleh tinggal di Dresden sampai dengan tahun 1844. Pada tahun 1852 ia kembali ke Indonesia. Pada perjalanan Eropanya yang kedua pada tahun 1875 sampai 1878 ia juga sempat tinggal di Coburg selama satu tahun.

Kembali di Batavia, yang sekarang dikenal sebagai Jakarta, ia tidak berkerja untuk pemerintahan kolonial Belanda, melainkan menjadi orang yang terkenal yang telah mendapatlan banyak sekali Bintang Penghargaan dan Tanda Jasa dari Jerman serta dipuja oleh banyak negara di Eropa. Ia tinggal di Puri kecilnya di Cikini, di Jakarta dan disana ia dengan senang hati menerima tamu-tamu berbahasa Jerman. Puri kecilnya masih berdiri dan sekarang dipergunakan sebagai kantor dari Rumah Sakit Cikini. Raden Saleh membangun purinya dengan arsitektur meniru Puri Callenberg yang berada didekat Coburg, dimana ia sering menginap bersama Bangsawan Herzog Ernst II. von Sachsen serta keluarganya.

Di Jerman sendiri masih terdapat banyak lukisan dari Raden Saleh, baik yang terpampang di museum maupun yang berada di tangan pribadi-pribadi pecinta seni. Secara arsitektur masih ditinggal sebagai warisan sebuah bangunan masjid kecil, yang dibangun oleh Serre bagi temannya Raden Saleh yang dirancang olehnya sendiri di Maxen. Masjidnya yang saat itu dikenal sebagai “Rumah Biru”, sekarang tidak dipergunakan sebagai masjid dan kemungkinan besar dari dulu juga tidak pernah dpergunakan sebagai masjid.

Beberapa karya yang terkenal dari Raden Saleh berada di Istana Negara Jakarta. Salah satu yang paling penting adalah “ Penangkapan Pangeran Diponogoro” (1858). Raden Saleh menampilkan Pangeran Diponegoro sebagai pemenang secara moral, dengan gaya yang menantang menjalani penangkapannya. Ini adalah lukisan anti kolonialisme yang revolusioner, yang baru dikembalikan dari Belanda kepada pihak Indonesia setelah kemerdekaan Indonesia.

Raden Saleh adalah pelukis Jawa modern pertama. Ia memberikan suatu seni pandang dan pewarnaan yang baru dari Eropa serta memberikan pengaruh yang besar bagi sejarah seni lukis modern di Jawa.

Ke awal laman